HEAD TITLE

Bacalah dengan nurani yang bersih, menulislah dalam kejernihan hati dan fikiran lalu rangkailah persahabatan dengan cinta dan kasih sayang

Kami sangat berterima kasih jika anda berkenan meluangkan sedikit waktu untuk memberikan sekedar komentar

Copy Paste diizinkan, tapi jangal lupa mohon tampilkan source linkback-nya

Cari Blog Ini

Senin, 28 Februari 2011

SATU CARA AMPUH MERUSAK REPULIK INDONESIA



Lembar sejarah bangsa mulai jaman Majapahit, masa penjajahan hingga saat ini dipenuhi dengan banyak usaha dan tindakan dari rakyat hingga para pendiri bangsa agar Negara Indonesia tercinta ini dapat menjadi negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI" 



atau apapun istilah dan padanannya bukan masalah.

Apakah saat ini kita sedang bermimpi atau memiliki impian ?

Beda antara mimpi dan impian, mimpi dilakukan dengan tidur dan Impian dilakukan dengan usaha.

Pertama dan terpenting adalah melihat apakah negeri ini memiliki segala fasilitas dan perlengkapan yang dibutuhkan sehingga kita dapat memutuskan :

 Apakah kita bisa mulai mewujudkan impian
atau
Kita bisa mulai tidur dan bermimipi

Bumi Pertiwi ini sebenarnya memiliki semua Fasilitas dan Perlengkapan yang menjadi syarat utama tercapainya

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Fakta sederhana, paling nyata dan tak terbantahkan adalah kehadiran bangsa lain yang datang dengan tujuan untuk mengeksploitasi kekayaan Bumi Pertiwi dari dulu hingga kini.

 

Secara logika bodoh pun hal itu mudah dijawab, mereka hadir karena sebenarnya mereka tidak memiliki Fasilitas dan Perlengkapan untuk menjadi negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Tapi anehnya bangsa lain yang nota bene tidak memiliki Fasilitas dan Perlengkapan yang dibutuhka ternyata mampu lebih dulu mencapai kondisi

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Mari kita mulai dengan sedikit catatan kecil tanpa perlu menyebutkan perincian kekayaan apa saja yang bisa mengangkat Indonesia menjadi negeri yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Dengan hanya berbekal satu fasilitas dan perlengkapan yang paling mudah dilihat dan dirasakan dinegeri ini yaitu keunggulan Bumi Pertiwi dari

BUDAYA DAN PARIWISATA





Bukti-Bukti Kekayaan Alam dan Wisata Indonesia lainnya, bahkan telah diabadikan oleh National Geographic dapat dilihat di Blog berikut : Foto-foto-menakjubkan-indonesia

Perlahan-lahan anda akan sadar bahwa hanya dengan modal itu saja impian Indonesia menjadi negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

mampu terwujud bahkan terbang lebih dari dari cukup.

Bangsa lain bersusah payah berusaha mengklaim beberapa budaya mulai dari Batik, Tarian bahkan sampai masalah asal usul tempe ????
(kita semua bersatu dan berdemo lalu nyaris berperang karena itu)

Ironis sekali ada negara yang tidak mempunyai potensi pariwisata tapi

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Hidup dari sektor pariwisata...????

Hmmm…….

Ada yang Salah..?
Dimana Salahnya ..?
Apa yang salah ...?
Gimana ini...!
Siapa yang salah …?

STOP !!!

APA SALAH KU ?

(Maaf tidak dilanjutkan kalau sudah timbul kata "siapa yang salah")


Pernahkan anda bertanya dalam hati anda mengapa dalam sejarah bangsa ini seringkali terlontar bahkan hingga tercetus dalam sejarah bangsa beberapa selogan yang bermakna Persatuan seperti

Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda, Gotong-Royong



bahkan slogan bangsa ini adalah

Bhineka Tunggal Ika 
yang menjadi kebanggaan bangsa ini.


Marilah kita coba mengupas sedikit lebih dalam, betapa sering tanpa disadari kalau kita disinggung apakah bangsa ini telah bersatu maka hampir sepenuhnya kita semua berteriak bahwa kami bersatu dan kami bersatu dalam perasaan

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”.

Camkan perlahan makna kata

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”.

Ternyata disitulah terdapat sebuah titik yang menjadi kelemahan bangsa ini. Dan yang lebih berbahaya ternyata titik kelemahan tersebut diketahui dan dimanfatkan sejak zaman penjajahan kolonial hingga saat ini oleh pihak-pihak yang ingin memeras dan mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi atau mereka yang tidak menginginkan Indonesia menjadi negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Titik lemah tersebut sebenarnya telah diketahui dan dirasakan oleh para pendahulu kita sehingga sebelum kondisi

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

mereka berfikir keras untuk mempersatukan keutuhan dan kesatuan bangsa ini
dan hasilnya mereka berhasil menyatukan kita semua dengan penuh semangat bersejarah sehingga tercetuslah berbagai ide dan semboyan yang pada dasarnya merupakan usaha untuk mempersatukan kesatuan bangsa seperti Sumpah Palapa, Bhineka Tunggal Ika, Gotong-Royong hingga Sumpah Pemuda dan segalanya yang sepadan dengan persatuan.



Marilah kita buka selubung misteri yang menjadi titik lemah bangsa ini. Fakta bahwa perasaan

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”.

ternyata telah membawa negara kedalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mencapai negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

dan titik kelemahan justru timbul pada semangat

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”.

coba anda renungkan bagaimana jika terjadi sebuah kondisi yang mampu MENGHILANGKAN perasaan saling

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”

dan Jika hal itu terjadi


PUTUSLAH RANTAI PERSAUDARAN KITA


Titik lemah karakter budaya ini ternyata menjadi kunci utama untuk “menguasai” bangsa ini dan hal ini sudah dipelajari oleh bangsa asing atau penguasa pribumi berkuasa di bumi pertiwi Indonesi da tanpa disadari fakta ini hampir merupakan budaya sehingga nyaris tidak terasa Apa yang terjadi selanjutnya sudah dapat diperkirakan ternyata landasan persatuan bangsa ini sebenarnya sangat rapuh.

Sebagai ilustrasi sederhana

"JANGAN PERNAH MENCOBA MEMECAH PERSATUAN BANGSA INDONESIA"

jika didalamnya terkondisi perasaan

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”

karena jika kondisi itu tercapai maka

 DENGAN SEMANGAT 45



“Rantai persatuan bangsa ini menjadi sangat kuat bahkan terlalu kuat”.

Kita bisa lihat fakta yang terjadi dalam beberapa peristiwa mulai dari jaman kolonial hingga peristiwa yang masih segar dalam ingatan kita yaitu Peristiwa 27 Juli atau “Penggusuran Tanjung Priok” dimana didalam peristiwa itu terbentuk:

SEMANGAT SOLIDARITAS
“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”



Cerita selanjutnya tidak perlu diragukan lagi betapa hebatnya rasa persatuan dan solidaritas bangsa ini.

Namun dibalik semua kekuatan dan kehebatan yang dimiliki oleh bangsa ini ada satu cara ampuh untuk memecahkan kekuatan mata rantai bangsa ini, cukup dengan cara yang sangat sederhana yaitu berikan beberapa tetes

“MINYAK PENGHARGAAN“



pada salah satu mata rantai atau pada mata rantai yang paling keras, sehingga mata rantai tersebut menjadi sedikit berbeda atau bahkan berbeda sama sekali dengan mata rantai yang lain dengan kata lain mata rantai tersebut tidak lagi menjadi

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”


maka “mata rantai” tersebut dengan sangat mudah dilepaskan atau bahkan akan terlepas dengan sendirinya !.

Penetesan "Minyak Penghargaan" dilakukan pada masa kolonial sebelum mereka melakukan politik "Devide et Impera". (perhatikan dan catat beberapa fenomena yang berlangsung saat ini)

Rahasia formulasi “Minyak Penghargaan” dari zaman penjajahan hingga saat ini masih terbuat dari komponen yang hampir sama yaitu terbuat dari gabungan bahan-baku sejenis Gelar Kerakyatan, Gelar Kebangsawanan,   Pecahan Emas Perak dan setaraf remah keju atau roti.



Prinsip dasar dari cara kerja “Minyak Penghargaan” ini cukup sederhana yaitu memberikan sebuat titik atau warna pada satu mata rantai sehingga mata rantai tersebut menjadi yang sedikit berbeda atau berbeda sama sekali dari mata rantai lainya.




Marilah kembali kita renungkan betapapun hebat dan kuatnya mata rantai kesatuan bangsa ini pada saat terjadi solidaritas perasaan

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”

Bahkan hal ini telah teruji mulai dari perjuangan pada zaman penjajahan kolonial
hingga perjuangan dimasa kemerdekaan, namun sayangnya persatuan ini sebenarnya sangat rapuh dan mudah hancur hanya karena beberapa tetes

“MINYAK PENGHARGAAN“

Fenomena “Minyak Penghargaan” ini mungkin bisa menjawab berbagai pertanyaan klise

Mengapa mata rantai yang seharusnya menjadi titik kekuatan bangsa ini dimulai dari masyarakat biasa, guru, tokoh panutan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para wakil rakyat hingga petinggi negeri tidak lagi bertindak sesuai dengan ide-ide luhur mereka pada saat mereka

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”

Jawaban sederhana adalah :

Karena mereka sudah mendapatkan tetesan

“MINYAK PENGHARGAAN“

tetesan ini menyebabkan mereka tidak lagi tergabung dalam satu kesatuan mata rantai yang

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”.




“FENOMENA MINYAK PENGHARGAAN“



Diteteskan oleh berbagai sumber yang mengetahui dan memahami benar rahasia kelemahan bangsa ini (Bahkan kita sendiripun tanpa disadari terkadang turut meneteskannya)


Saat ini mulai dari masyarakat biasa, guru, tokoh panutan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para wakil rakyat hingga petinggi di negeri ini semua berteriak :

- Bagaimana menangani pendidikan bla..bla..bla
- Bagaimana mengatasi hutang negara bla…bla..bla…
- Bagaimana mengatasi korupsi bla…bla..bla…
- Bagaimana mengatasi kenaikan harga-harga ini dan itu bla..bla..bla
- Bagaimana mengatasi kerugian negara dari sektor usaha ini dan itu bla…bla..bla…
- Bagaimana mengatasi segala bentuk porno aksi bla... bla..bla..
- Bagaimana mengatasi segala bentuk masalah ini dan itu bla... bla..bla..
- Dan Bla…bla…bla.. selanjutnya (Capek dech)

Lalu kita semua sepakat untuk

MELAKUKAN TINDAKAN INI DAN ITU BERHARAP TERJADI PERUBAHAN INI DAN ITU 
DIBUMI PERTIWI INDONESIA

yang terkemas dalam sebuah skenario yang nyaris hampir tidak pernah pernah berubah. Urutannya skenario diawali dengan tahap

“Sesuatu Telah Terjadi “ kemudian tahap
“Saling tuding tanggung jawab dan kesalahan”, lalu munculah tokoh
"Si kambing Abu-Abu" lalu

SI KAMBING HITAM

gue lagi....gue lagi


dilanjutkan dengan



PEMBENTUKAN
Tim atau PANSUS kemudian Gelar Rapat ABC,

Lalu masuk skenario dan tokoh cerita sampingan






kemudian selanjutnya 


BLA...BLA...BLA......BLAAAAAAA....!!!!!!!

Akhir klimak bak skenario film masuk ke titik adegan seru yaitu

Teriakan dan jeritan,
Demonstrasi pro-kontra,



Unjuk rasa besar-besaran dan tindakan anarkis, 



DAR… DER… DOR 

Aksi Teror

KEMUDIAN

DOAARR…..BOM MELEDAK
(bunuh diri atau tidak bukan masalah)

Kemudian hening sejenak dengan isak tangis kepiluan yang seharusnya tidak perlu terjadi, kemudian mereda dan selanjutnya kembali ke skenario awal, Back to Reff, Back to Basic atau apalah namanya (juga bukan masalah)

Hasil akhir untuk mencapai Negara

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"



kembali menjadi sebuah Dongeng Rayuan Pulau Kelapa…

Melambai-lambai, nyiur dipantai…, Berbisik-Bisik……, Indonesia…….
(Oalah malang benar nasib bangsamu nak).

“Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan, yuk bebaskan diri kita dari pengaruh negative”
(Slogan Bijaksana ini dikutip dari seorang teman thx ya)

Saat ini anda sebagai salah satu warga Negara Indonesia mungkin tidak segera langsung merasa dirugikan atau bermasalah dengan apa yang terjadi, namun perlahan tapi pasti anda seharusnya dapat merasakan ada sesuatu hal yang tidak beres di negeri ini

Banyak pihak yang saat ini memiliki begitu banyak cadangan

“MINYAK PENGHARGAAN“

bahkan dengan formulasi yang semakin canggih.

“MINYAK PENGHARGAAN“

Diteteskan tanpa kita sadari begitu halus terkadang selembut hembusan angin sepoi-sepoi terasa namun tak terlihat !

“MINYAK PENGHARGAAN“

Bahkan telah luber pada titik-titik dalam mata-rantai persatuan di negeri ini mulai dari mata rantai terkecil dan terlemah hingga mata rantai terbesar bahkan kalau anda jeli anda akan menemukan bahwa

“MINYAK PENGHARGAAN“

juga telah menitis dalam beberapa jenis dunia hiburan.

Jika anda memiliki impian bahwa Negari Kesatuan Republik Indonesia ini suatu saat akan menjadi negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"




BERHENTILAH 

Terteriak, menyindir, berparodi dagelan, memohon, menuding, mengecam bahkan merusak mata rantai yang memang telah berbeda (mata rantai tersebut mungkin saat ini sudah sangat jauh berbeda !)



BERHENTILAH 
Berdemo dan unjuk rasa, mogok makan, jahit mulut, bahkan dengan taruhan pengorbanan nyawa ! Percayalah semua usaha tersebut akan merugikan diri sendiri dan pada akhirnya akan membawa kita kembali ke titik awal.



MARILAH KITA SEMUA

“Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan, yuk bebaskan diri kita dari pengaruh negative”

Gunakan fikiran yang tenang, hati dan nurani yang bersih lalu renungkan kembali bahwa Bumi Pertiwi ini sebenarnya sudah memiliki semua Fasilitas dan Perlengkapan yang menjadi syarat utama tercapainya kondisi

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Maka sekali lagi bila anda berharap dan bercita-cita untuk menjadikan bangsa yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Maka sekali lagi

SADARILAH 
Dengan sedalam-dalamya apa sebenarnya yang menjadi "TITIK LEMAH" bangsa ini jauh sebelum kita

MELAKUKAN TINDAKAN INI DAN ITU BERHARAP TERJADI PERUBAHAN INI DAN ITU 
DIBUMI PERTIWI INDONESIA


BERHENTILAH 
untuk berteriak, memohon, menuding, mengecam bahkan merusak mata rantai yang memang telah berbeda (saat ini mata rantai tersebut sudah sangat jauh berbeda !) sekalipun dengan taruhan nyawa anda !, percayalah  karena semua usaha akan berakhir sia sia.

PERHATIKAN 
baik-baik bahwa dikanan-kiri anda masih begitu banyak mata rantai yang sama yang mau dan berjuang bersama untuk mencapai kondisi negara yang

"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"


JAGALAH

Diri anda dan mata-rantai terdekat disekeliling anda agar tidak menjadi mata rantai yang berbeda hanya karena tetesan “Minyak Penghargaan”



RENUNGKAN DAN SADARILAH 

Bahwa sebenarnya mata rantai yang rusak atau yang berbeda jumlahnya jauh lebih sedikit dari mata rantai yang baik dengan demikian


"ADIL MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI"

Tidak mungkin dilakukan bersama mata-rantai yang telah berbeda dengan jumlah sedikit (sebuah kebodohan bila anda mengharap perubahan kemudian berjuang bersama namun dengan jumlah yang minoritas)

Kita seharusnya membantu mata rantai yang telah "berbeda" untuk kembali menjadi sama tanpa harus MERUSAK nya, karena pada awalnya mereka sama-sama memiliki rasa

“SENASIB, SEPENDERITAAN DAN SEPENANGGUNGAN”.

pada dasarnya kita sendirilah yang tidak mampu menjaga mata rantai tersebut dan membiarkannya sehingga mereka menjadi terlalu berbeda.

SEKALI LAGI DAN YANG TERPENTING

SADARILAH 
Dengan sedalam-dalamnya apa sebenarnya menjadi "TITIK LEMAH" bangsa ini selama berabad-abad hingga kini, jauh sebelum kita

"MELAKUKAN TINDAKAN INI DAN ITU 
BERHARAP TERJADI PERUBAHAN INI DAN ITU
DIBUMI PERTIWI INDONESIA"

Dengan "Minyak Penghargaan" Indonesia dikuasai oleh bangsa lain selama 350 tahun !! (Bahkan berlanjut hingga saat ini dengan cara yang sangat halus),

Apakah anda tidak merasakan
Keringat seharusnya menetes lebih dulu daripada darah




WE CAN DO IT TOGETHER HAND IN HAND
WITHOUT BLOOD AND WAR 
JUST USE OUR LOVE AND FRIENDSHIP
FIND THE KEY IN YOUR HEART
SO WE CAN CRY TOGETHER IN HAPPINESS



    1 komentar: